Page 129 - Demo
P. 129


                                    92Dan seperti biasa, saya cuma menutup catatan dengansenyum getir: %u201cNegara ini sudah terlalu sering melahirkanreformasi, tapi jarang membesarkan hasilnya.%u201d***** Kalau bicara reformasi kepolisian, jangan buru-burubayangkan adegan heroik polisi menembak ke langit sambilteriak %u201cReformasi atau mati!%u201d Sebab, yang sedang diperjuangkan oleh Yusril Ihza Mahendra bukanlah adegan film aksi,melainkan restorasi akal sehat di tengah institusi yang semakinkehilangan arah.Yusril, yang rambut peraknya kini makin jernih sepertikertas putih yang menunggu ditulis sejarah baru, bukanlahpendatang baru dalam urusan %u201creformasi%u201d. Ia bukanpenceramah dadakan yang mendadak sadar hukum setelahnonton podcast. Ia saksi sejarah. Bahkan salah satu arsitek yang menuliskancetak biru pemisahan TNI dan Polri ketika negeri ini barubangun dari tidur panjang Orde Baru. Ia terlibat sejak eraHabibie, menulis ulang pasal demi pasal Undang-UndangDasar, hingga jadi menteri di zaman Megawati Soekarnoputriyang membahas RUU Polri bersama Matori Abdul Djalil.Jadi, kalau sekarang ia bicara soal %u201ckembali ke roh sipil Polri%u201d,itu bukan nostalgia tua-tua keladi. Itu peringatan dari seorang%u201cbidan konstitusi%u201d yang tahu betul bagaimana bayi reformasi duludilahirkan %u2014 dengan darah, keringat, dan debat.Menurut Yusril, reformasi kepolisian bukan sekadarmengganti jargon atau menambah spanduk %u201cPresisi Plus
                                
   123   124   125   126   127   128   129   130   131   132   133