Page 14 - Demo
P. 14


                                    xiiiawal Reformasi, bersama Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri.Itu momen historis, sebuah titik belok dalam sejarahRepublik. Setelah pidato pertanggungjawaban BJ Habibieditolak MPR, bangsa ini berada di persimpangan tiga jalan.Di titik itu Yusril, yang relatif lebih muda dan lebih %u201csegar%u201dsecara intelektual maupun politik, dengan legowo menarik diridari bursa pencalonan, sehingga menyisakan dua kandidat.Ini bukan sekadar manuver politik. Ini pelajaran tentangstatesmanship%u2014kematangan seseorang dalam memahamibahwa ambisi pribadi tidak boleh mengalahkan kebutuhannegara.Tanggal pastinya adalah 20 Oktober 1999, hari ketikakompromi politik di MPR menggeser peluangnya untukmenjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia. Di hari itu Gus Dur(Abdurrahman Wahid) naik jadi Presiden. Di hari itu pula,duduk bersebelahan di meja Sidang Paripurna MPR yangberanggotakan 462 orang, Megawati Soekarnoputri mengalungkan tangannya di leher Yusril, sebuah gestur simbolikyang hanya terjadi di antara para pemimpin yang saling menghormati kedewasaan moral.Saya sebagai seorang yang memimpin puluhan wartawandi Biro Jakarta harian Republika menyaksikan momen itudengan kesan mendalam.Kesempatan memimpin negeri ini kembali hadir bagiYusril pada momentum lain: pencalonannya sebagaiGubernur DKI Jakarta (tahun 2007). Saya kembali mendukungnya, kali ini bukan sebagai wartawan murni, tetapi
                                
   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18