Page 239 - Demo
P. 239


                                    202prinsip one roof system, memindahkan otoritas pengadilan darikementerian ke Mahkamah Agung. Langkah itu bukan sekadaradministrasi, tetapi reformasi struktur: merapikan rumah hukumyang selama Orde Baru penuh kamar gelap dan pintu samping.Mahfud bahkan mengenang bagaimana Yusril %u201cmengocok%u201dhakim-hakim, memindahkan yang berkualitas ke Jakarta agarpusat peradilan diisi oleh otak terbaik. Tentu saja ini langkah yangterlalu idealis untuk dunia yang tak pernah sepenuhnya ideal. Korupsi kembali menyebar di tahun-tahun berikutnya, tetapisetidaknya sejarah telah mencatat bahwa ada seorang Yusril yangpernah mencoba menata papan catur sebelum bidak-bidakkembali bergerak semaunya.Di ruang lain, Margarito Kamis %u2014ahli hukum yang terkenaltidak mudah kagum%u2014 mengakui kualitas perdebatan Yusrildalam sengketa-sengketa besar MK awal tahun 2000-an. Ia bahkan menggambarkan bagaimana Yusril mampumenundukkan argumen melalui satu kaidah sederhana namunmematikan: norma tertulis dan putusan pengadilan mengalahkansehebat apa pun pendapat ahli. Sebuah logika hukum yang begitujernih sampai-sampai membuat para ahli lain memilih menutupbuku dan pulang lebih cepat.Namun, kembali ke isu awal: mengapa Yusril mau membelaPrabowo%u2013Gibran? Jawabannya mungkin rumit secara politik,tetapi sederhana secara profesi. Ia adalah pengacara, dan pengacarabekerja dengan mandat, bukan dengan kenyamanan publik. Orang boleh tidak setuju, boleh sewot, boleh mencibir. Tetapikalau negara hanya diisi orang-orang yang bekerja berdasarkantepuk tangan massa, kita akan kembali ke zaman ketikakebenaran ditentukan oleh volume suara, bukan argumen.Dan ya, makian tetap datang. Ancaman tetap mendarat.Keluarga tetap ikut kena imbas. Tetapi begitulah risiko menjadi
                                
   233   234   235   236   237   238   239   240   241   242   243