Page 243 - Demo
P. 243


                                    206membedah konstitusi sambil ngopi hitam tanpa gula%u2014mengakuisebuah peninggalan penting dari Yusril setelah Reformasi. Dengan nada campuran bangga, lega, dan sedikit traumaadministratif, Mahfud berkata: %u201cDulu itu, pengadilan masihdi bawah Menteri Hukum dan HAM. Belum ada penyatuan.Waktu Pak Yusril menjabat, ia mengocok hakim-hakim bagusdari daerah dan dipusatkan di Jakarta.%u201d Ini bukan %u201cngocok%u201ddalam arti judi online, melainkan rekonstruksi besar-besaranterhadap sistem peradilan yang kala itu masih mabuk pascaOrde Baru.Pada masa awal Reformasi, UU No. 35 Tahun 1999 tentangKekuasaan Kehakiman mulai menggeser struktur badan peradilan menuju sistem satu atap di bawah Mahkamah Agung.Proses transisi ini butuh keberanian politik%u2014dan Yusril ada dititik kritis itu. Mahfud menyebut bahwa Yusril mengidentifikasihakim-hakim bagus dari daerah, mengonsolidasikannya, danmemulai kultur baru. Bahasa sederhananya: sebelum bicaratentang %u201cnegara bersih%u201d, seseorang harus memastikan parapenjaga palu itu%u2014para hakim%u2014tidak sedang memegang paludengan tangan gemetar.Sayangnya, sejarah kita selalu seperti kaset lama yangkadang kena jamur. Korupsi kembali merebak sekitar 2006%u20132007. Tapi fondasi awalnya%u2014seperti yang Mahfud akui%u2014itujejak Yusril. Legasi yang, bagi sebagian bangsa lain, bisa dicatatsebagai tonggak penting. Di kita? Terkadang malah tenggelamdi antara isu gosip dan debat warganet.Lalu datang Margarito Kamis%u2014ahli hukum tata negarayang kalau bicara di Mahkamah Konstitusi bisa membuat
                                
   237   238   239   240   241   242   243   244   245   246   247