Page 171 - Demo
P. 171
134semata prosedur, atau juga tentang etika dan keadilan? Kalauprosedur bisa dipesan seperti nasi kotak, maka keadilan kadangseperti lauknya %u2014tak selalu cukup, bahkan bisa zonk.Publik lalu bertanya-tanya: apa di balik semua ini? Kenapahanya Hasto dan Tom yang disorot? Apa karena mereka elite?Atau karena mereka simbol? Dan apakah ini keputusanuniversal atau selektif strategis?Beberapa tafsir liar pun beredar, sebagaimana bermunculandi arena wacana. Ada yang bilang, Presiden Prabowo inginmembangun koalisi nasional permanen. Maka, batusandungan hukum terhadap elite partai mesti dibersihkan lebihdulu.Yang lain berkomentar, pemberian abolisi dan amnesti tiap17 Agustus memang biasa. Tapi, mengapa dua nama besar itudipromosikan ke headline media?Atau, tanya yang lain lagi, barangkali Yusril sedangmenjaga reputasinya sebagai ahli hukum negara? Di tengahwacana ini, ia pun tampil menjelaskan, bukan semata demirezim, tapi demi logika hukum yang (masih) bernapas.Ia tampil dengan selalu konsisten dalam satu hal: membelakonstitusi dari sudut paling strategis. Saat dulu berada di oposisi,ia bicara soal bahaya kekuasaan absolut. Kini saat ia berada dilingkar dalam pemerintahan, ia bicara soal kemuliaan hukumsebagai pagar peradaban.Apakah Yusril berubah-ubah? Tidak juga. Ia hanyaberpindah peran dan menafsir hukum sesuai konteks peranitu. Dalam bahasa Pegon: %u201cYusril iku ora owah, mung gantisandhangan.%u201d

