Page 172 - Demo
P. 172


                                    135Yusril Ihza Mahendra, dengan segala kecerdasan dankelenturannya, tetap menjadi tokoh hukum yang %u201cterjemahan%u201d-nya penuh makna. Hari ini ia menjelaskan konstitusi demikekuasaan, besok bisa mengkritiknya demi demokrasi.Namun satu hal tak berubah: ia selalu tampil di tengahpanggung hukum, dengan suara bulat dan argumen padat.Kalau dia sudah bicara, hukum jadi seperti teks khutbah Jumat:singkat, padat, dan (sering kali) tidak terbantahkan.Walhasil, abolisi dan amnesti itu hak presiden. Tapi rakyatjuga merasa punya hak: hak untuk curiga, bertanya, dan%u2026hak untuk tertawa. Karena dalam republik ini, humor adalahpertahanan terakhir akal sehat. Dan ketika Yusril angkatbicara, kita tahu: tafsir pun menjadi bersinar.[]
                                
   166   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176