Page 344 - Demo
P. 344
307Namun, Yusril tidak sekadar menyodorkan kritik. Dipodium Universitas Andalas, ia menyeru agar reformasi hukumditempatkan sebagai senjata ampuh untuk meredamketimpangan. Hukum, dalam visi Yusril, harus menjadiinstrumen redistribusi yang nyata: memperkuat hak ekonomibagi masyarakat terpinggirkan, menyeimbangkan medantempur sosial, dan menjadikan keadilan bukan sekadar slogandi spanduk. Ia menekankan pentingnya bantuan hukum probono dan perluasan akses keadilan, agar mereka yang lemahsecara ekonomi tidak lagi menjadi korban diam-diam dalampermainan kuasa dan regulasi yang kerap berbau elit.Mari kita refleksikan sejenak: betapa sering kita menyaksikan hukum menari-nari mengikuti irama kekuasaan. Saatpejabat korup tertangkap, headline media bergemuruh%u2014tapikasus yang melibatkan rakyat jelata seringkali hilang bak debudi angin. Di sinilah ketimpangan menyelinap, seperti hantuyang mengintai dari sudut gelap ruang sidang. Yusril, dengangaya khasnya yang akademik tapi tetap membumi, menyerukan agar hukum menghentikan tarian itu dan mulai berdiritegak di atas prinsip keadilan sejati.Kegiatan yang mengusung tema %u201cLegal Reform andEquitable Law Enforcement in Indonesia%u201d ini pun bukansekadar wacana akademik semata. Rektor Universitas Andalas,Efa Yonnedi, menekankan bahwa konferensi ini adalah bagiandari upaya berkelanjutan untuk memperluas atmosferakademik. Di dunia yang bergerak cepat%u2014di mana teknologidan ekonomi saling bertautan dengan politik%u2014hukum dituntutuntuk menyesuaikan diri. Tidak lagi bisa stagnan seperti buku

