Page 428 - Demo
P. 428
391kebingungan ini sebagai fenomena \ketika ia bertanya kepada Hamdan Zoelva, mantan Ketua MK,tentang tafsir dua putusan MK yang saling bertentangan itu,jawabannya sangat zen: \Semua berlaku? Lalu bagaimana menjalankannya? Kalaupemerintah menjalankan pemilu serentak, ia melanggarputusan pemilu terpisah. Kalau memilih pemilu terpisah, iamelanggar putusan pemilu serentak. Kalau memilih jalantengah, ia dianggap meracik tafsir sendiri.Situasi ini seperti naik motor di perempatan tanpa lampumerah: semua arah merasa berhak jalan duluan.Bagi Yusril, inkonsistensi semacam ini bukan sekadar salahkoordinasi. Ini krisis tata negara. Sebab pemilu adalah fondasipolitik bangsa. Bila fondasinya retak, rumah demokrasi akanberada di tengah badai tanpa pegangan.Lebih parah lagi: tugas reformasi politik diberikan kepadaYusril oleh Presiden Prabowo Subianto. Anda bayangkan, Yusrildiminta merekomendasikan sistem pemilu terbaik, sementaraia harus bekerja dengan \menunjuk ke utara dan selatan sekaligus. Seperti dimintamemimpin perjalanan haji dengan peta yang mencatatMekkah di dua lokasi berbeda.Persoalan berikutnya adalah parliamentary threshold danpresidential threshold. MK pernah mempertahankannya, lalupernah pula membatalkannya dalam konteks berbeda. Andatahu apa artinya?Itu seperti warung makan yang dulu bangga menjual ayamgeprek super pedas, tapi kini bilang cabai tak baik bagi

