Page 431 - Demo
P. 431
394ENAM PULUH SATURuang Tafsir yangTak Pernah NetralKonstitusi, kata para ahli hukum, adalah kitab sucinegara modern. Tapi seperti kitab suci mana pun, iatidak pernah berbicara dengan suara tunggal.Konstitusi itu sepi, diam, tidak berteriak %u201cSaya maksudnyabegini!%u201d.Karena itu, manusia%u2014dengan segala akal, ambisi, danemosinya%u2014datang memberikan tafsir. Dan di situlah dramahukum dimulai.Yusril Ihza Mahendra mengingatkan hal yang sebenarnyasederhana, tetapi jarang direnungkan: konstitusi adalah teksyang lahir dari pergulatan politik, tetapi dibaca kembali dalampergulatan politik yang berbeda.Teksnya tetap, penafsirnya berganti, konteksnya berubah,kepentingannya bergerak. Sehingga konstitusi itu, kalau bolehsatir sedikit, seperti kertas lakmus nasional: siapa yang mence-

