Page 434 - Demo
P. 434
397Perbedaan asumsi filosofis ini membuat tafsir atas pasalyang sama bisa bertolak belakang. Seperti dua orang membacasajak yang sama tetapi menghasilkan emosi berbeda.Kedua: lapisan historis. Untuk memahami maksud parapendiri bangsa, kita perlu kembali ke situasi mereka: perangideologi, kerapuhan negara baru, kebutuhan stabilitas.Tapi penafsir hari ini hidup di abad digital, dalammasyarakat kompleks, dalam dunia yang jauh berbeda. Makapertanyaannya: apakah tafsir harus kembali ke \pembuat konstitusi? Atau perlu memperbarui makna sesuaizaman? Ini konflik klasik antara _originalism_ dan _livingconstitution_.Ketiga: lapisan politik. Yusril sangat halus tetapi jelasmengingatkan: setiap tafsir hukum berada dalam aruskekuasaan. Tidak ada tafsir yang netral. Penafsir membawakepentingan, perspektif, bahkan tekanan politik. MK, DPR,pemerintah, akademisi %u2014semua membaca teks dari sudutnyamasing-masing. Teks itu tetap, penafsirnya tidak.Dalam dunia fikih, kita mengenal konsep ikhtilaf: perbedaan pendapat sebagai rahmat. Ulama membaca teks yangsama, tetapi menghasilkan pandangan yang berbeda. Merekatidak saling mengkafirkan. Begitu pula seharusnya interpretasikonstitusi.Namun bahaya muncul ketika tafsir tidak lagi dilakukandengan kerendahan hati ilmiah, tetapi dengan ambisi politik.Jenggot makin panjang, jubah makin panjang, tetapi akalmakin pendek %u2014begitu sindiran Yusril. Tafsir berubah menjadisenjata, bukan dialog.

