Page 20 - Demo
P. 20


                                    xixSemua itu hadir dalam gaya Catatan Cak AT: gaya yangsatiris, humoris, hiperbolik tetapi penuh data dan kajian;gaya yang tidak menggurui namun membedah isu sepertipisau bedah kirurg; gaya yang memetik hikmah dari tragedidan memunculkan renungan dari peristiwa yang tampaknya biasa.Buku ini bukan sekadar kumpulan esai politik. Ia catatanperjalanan intelektual %u2014baik perjalanan pemikiran Yusril,maupun perjalanan batin saya sebagai penulis yang menemanidari kejauhan.Saya menulis dengan sudut pandang yang tidak inginmenjadi netral kering, tetapi juga tidak tunduk pada kepentingan politis. Saya menulis dengan rasa hormat kepada tokohyang saya kenal bukan hanya dari layar kaca, tetapi darilintasan panjang sejarah bangsa.Akhir kata %u2014meski saya tidak benar-benar mengakhiri apapun%u2014 buku ini ingin memberikan satu pesan: Bahwa dalamhiruk-pikuk Indonesia modern, kita masih memiliki tokohtokoh yang bekerja dengan kepala dingin dan hati jernih.Bahwa negara ini masih memiliki arsitek yang tidak haussorotan lampu tetapi sibuk membenahi fondasi hukum agarrumah besar Indonesia tetap berdiri.Bahwa pemikiran hukum bukanlah benda mati di ataskertas, melainkan nyawa yang memberi arah pada bangsa.Bahwa keadilan yang memulihkan hak adalah cita-cita besaryang harus terus dikejar, dipelihara, dikerjakan %u2014hari demihari%u2014 demi masa depan yang lebih sehat, lebih adil, lebihmanusiawi.
                                
   14   15   16   17   18   19   20   21   22   23   24