Page 440 - Demo
P. 440
403memberi contoh indah dari tradisi fikih dan tasawuf. Paraulama dahulu berbeda pendapat dengan tajam, bahkan sampaimenganggap lawannya keliru secara substansi. Tetapi merekatetap saling menghormati. Mereka tidak mencaci, tidakmerendahkan, apalagi saling menumpahkan amarah.Lihat bagaimana Imam Syafi'i berselisih dengan ImamMalik dalam ratusan persoalan fikih, tapi tetap saling mengakuikebesaran satu sama lain. Lihat bagaimana para sufimemperdebatkan konsep wihdatul wujud versus tauhid filosofistanpa merasa perlu menginterogasi iman lawannya. Tidak adayang menuduh sesat hanya karena beda definisi.Bandingkan dengan suasana debat politik kita hari ini.Perbedaan sedikit saja bisa menyebabkan individu dicap kadrun,cebong, barisan sakit hati, barisan nasi bungkus, bahkan barisanyang entah apa namanya. Kita tidak sedang hidup dalam negarahukum; kita sedang hidup dalam negara hashtag.Apa hubungan semua ini dengan konstitusi? Sederhana:negara hukum tidak bisa hidup tanpa masyarakat yang dewasasecara nalar. Hukum membutuhkan akal sehat agar dapatdiinterpretasi dengan bijak. Tanpa akal sehat, tafsir hukumberubah menjadi palu godam politik.Yusril mengingatkan bahwa konstitusi adalah teks; dansetiap teks membutuhkan penafsir. Penafsir yang baik akanmencari makna, bukan kemenangan. Tetapi penafsir yangdangkal %u2014atau sengaja dangkal%u2014 akan menggunakan tekssebagai alat politik.Di sinilah kedewasaan memainkan peran penting. Jikamasyarakat, elite, akademisi, dan politisi tidak dewasa, maka

