Page 439 - Demo
P. 439


                                    402Bagian ini, kalau tidak diikuti dengan telinga dan hati yangjernih, bisa lewat begitu saja, padahal ia adalah inti krisis politikkita hari ini.Yusril mengingatkan bahwa dunia akademik adalah duniaperdebatan. Dunia yang penuh argumen, bukan umpatan;penuh pertimbangan, bukan prasangka; penuh perbedaan,bukan permusuhan. Tetapi di negeri ini, perbedaan pendapatsering dihitung seperti pertarungan tinju: siapa menang, siapakalah, siapa jatuh, siapa harus diam.Ia menyebut satu kalimat yang membuat ruangan hening,lalu seketika pecah oleh tawa getir: \jubah makin panjang, akal makin pendek.\Ini bukan olok-olok terhadap mereka yang berjenggot atauberjubah. Ini ejekan terhadap kecenderungan sebagian orangyang menyangka bahwa simbol-simbol lahiriah otomatismeningkatkan kualitas berpikir. Padahal akal sehat tidaktumbuh dari panjang jenggot, tidak juga dari lebar serban; iatumbuh dari kemauan untuk memahami, bukan keinginanuntuk menang.Kita hidup di zaman ketika perdebatan publik kadang taklagi menggunakan logika, tetapi volume suara. Siapa yangpaling keras, paling viral, dan paling berani memelintir argumen menjadi ancaman, dialah yang dianggap menang.Padahal dalam tradisi keilmuan, yang menang adalah yangpaling benar, bukan yang paling ribut.Inilah penyakit negara hukum kita: krisis kedewasaanintelektual.Untuk menggambarkan perbedaan yang sehat, Yusril
                                
   433   434   435   436   437   438   439   440   441   442   443