Page 441 - Demo
P. 441


                                    404tafsir konstitusi akan jatuh ke tangan orang-orang yangmenjadikan hukum sebagai pedang, bukan kompas. Negarahukum bisa berdiri pada kakinya secara formal, tetapi pincangsecara moral.Bagian paling menarik dari Yusril adalah ketika ia menyatakan bahwa perbedaan pendapat itu wajar, bahkan sehat.Dalam dunia akademik, bila dua pihak tidak menemukan titiktemu, mereka cukup berkata: \tidak sepakat.\Tetapi di dunia politik Indonesia, frasa seperti itu terdengarseperti kutukan. Kita bukan hanya tidak bisa sepakat; kitabahkan tidak siap untuk tidak sepakat. Kita menganggapperbedaan sebagai ancaman eksistensial. Dan ketika perbedaandibawa ke publik, ia berubah menjadi amunisi permusuhan.Apa yang terjadi? Logika mati. Nalar merana. Dan perdebatan berubah menjadi kompetisi siapa yang bisa membuatkoar-koar paling keras di media sosial.Padahal kalau kita tengok sejarah para pemikir besar,mereka dihormati bukan karena pendapatnya seragam, tetapikarena keberanian mereka untuk berpikir berbeda%u2014tanpakehilangan adab.Yusril menutup bagian ini dengan pesan sederhana namundalam: \orang-orang yang mempunyai kapasitas intelektual yangmumpuni.\Bukan sekadar pintar orasi. Bukan pandai memprovokasi.Bukan sakti dalam kampanye murahan. Melainkan merekayang tahu bagaimana menjaga keseimbangan antara
                                
   435   436   437   438   439   440   441   442   443   444   445