Page 291 - Demo
P. 291
THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA268argumen.398 Namun aparat memiliki akses istimewa ke media dan simbol-simbol negara. Pernyataan pejabat tinggi mudah menjadi berita utama dan dipercaya karena otoritas. Sementara pihak yang dituduh sering hanya diberi ruang sebagai klarifikasi di pinggir, atau justru dibaca sebagai pembelaan diri yang dicurigai. Jika tindakan administratif seperti pencegahan dijalankan serentak dengan komunikasi publik yang repetitif, maka ketimpangan itu membesar. Negara tampil sebagai narator tunggal. Pihak yang dituduh terpaksa berbicara dari posisi defensif, dan defensif itu dalam psikologi massa sering dibaca sebagai tanda bersalah, bukan sebagai hak.Dari sudut pandang konstitusional, inilah alasan mengapa Yusril membawa isu pencegahan ke Mahkamah Konstitusi dan menekankannya sebagai persoalan kebebasan bergerak dan kepastian hukum. Pembatasan hak dapat dibenarkan, tetapi harus berbatas waktu. Pembatasan yang dapat diperpanjang tanpa batas kumulatif menciptakan ruang untuk pemenjaraan administratif, dan pemenjaraan administratif yang berjalan bersamaan dengan narasi publik yang repetitif menciptakan hukuman sosial. Dalam negara hukum, dua hal ini berbahaya karena merusak jembatan antara prosedur dan keadilan. Prosedur tetap ada, tetapi keadilan sudah kalah di ruang publik.Rights of Free MovementHak untuk bergerak bebas (rights of free movement) pada dasarnya merupakan hak untuk tidak dibatasi secara sewenang-wenang oleh negara dalam menentukan 398. Jay Sterling Silver, %u201cEquality of Arms and the Adversarial Process: A New Constitutional Right,%u201d Wisconsin Law Review, no. 4 (1990): 1007%u201342.

