Page 289 - Demo
P. 289
THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA266subjek hukum yang masih memiliki hak untuk diuji secara adil.394 Di sini, persoalan bergeser dari penegakan hukum menuju mobilisasi emosi publik. Dan mobilisasi emosi publik sering kali tidak memberi ruang bagi presumption of innocence.Prinsip keempat adalah simplifikasi radikal dan sloganisme. Propaganda bekerja paling efektif saat isu kompleks disederhanakan menjadi kalimat pendek yang mudah dikutip. Dalam konteks perkara pidana, simplifikasi itu dapat berupa penekanan pada angka dan label, misalnya ratusan miliar, seumur hidup, korupsi besar, tanpa menyertakan kompleksitas konstruksi delik, posisi peran, atau pertanyaan tentang pembuktian. Publik akhirnya mengonsumsi perkara sebagai cerita moral, bukan sebagai proses hukum. Dalam keadaan demikian, seorang tersangka tidak lagi dipandang sebagai warga negara yang haknya masih utuh sampai ada putusan, melainkan sebagai orang yang sudah pantas dibatasi, dipermalukan, bahkan dihukum secara sosial.Di titik inilah konsep penjara administratif bertemu dengan propaganda gaya Goebbels.395 Pencegahan ke luar negeri membatasi kebebasan bergerak tanpa harus melewati sidang pembuktian seperti dalam perkara pidana.396Secara formal, pencegahan disebut tindakan administratif. Namun secara substantif, ia menimbulkan rasa dikurung 394. Fat, %u201cYusril Juga Tegaskan Kasus Sisminbakum Penuh Rekayasa,%u201d Hukum Online, July 8, 2010, https://www.hukumonline.com/berita/a/yusril-jugategaskan-kasus-sisminbakum-penuh-rekayasa-lt4c36009a84202/.395. E. Bramsted, %u201cJoseph Goebbels and National Socialist Propaganda 1926%u20131939: Some Aspects,%u201d Australian Outlook 8, no. 2 (June 1954): 65%u201393, https://doi.org/10.1080/10357715408443904.396. Susan Bibler Coutin, %u201cConfined within: National Territories as Zones of Confinement,%u201d Political Geography 29, no. 4 (May 2010): 200%u2013208, https://doi.org/10.1016/j.polgeo.2010.03.005.

