Page 288 - Demo
P. 288
THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA265Prinsip kedua adalah pengulangan tanpa henti. Psikologi sosial mengenal efek bahwa sesuatu yang sering terdengar cenderung terasa lebih masuk akal. Pengulangan menciptakan ilusi kebenaran. Dalam konteks perkara pidana, pengulangan tuduhan sebelum pengadilan bekerja efektif sebagai pabrik stigma.392 Sekali tuduhan diumumkan, publik mungkin masih ragu. Namun setelah berkali-kali terdengar, ragu itu memudar, lalu berubah menjadi keyakinan kolektif. Pada titik ini, pencegahan ke luar negeri memperkuat pengulangan itu melalui bukti performatif. Negara tidak hanya berkata, negara juga melakukan. Pembatasan perjalanan menjadi semacam tanda yang terus ditunjukkan pada masyarakat bahwa orang tersebut memang patut dicurigai. Akhirnya, walau belum ada putusan pengadilan, label bersalah sudah terlanjur menempel sebagai fakta sosial.Prinsip ketiga ialah penciptaan figur musuh atau kambing hitam. Dalam propaganda ekstrem, musuh dibentuk bukan sekadar sebagai pelanggar hukum, melainkan sebagai ancaman moral yang layak dibenci. Dalam versi yang lebih halus di sistem demokratis, musuh dapat dibentuk melalui penggambaran tokoh sebagai simbol keburukan, misalnya aktor utama, otak kejahatan, perusak negara, lalu stigma itu dipelihara dengan repetisi.393 Yusril merasa bahwa dalam kasusnya, proses komunikasi yang gencar membuat dirinya mudah ditempatkan sebagai ikon keburukan, bukan sebagai 392. Benjamin Lessing and Graham Denyer Willis, %u201cLegitimacy in Criminal Governance: Managing a Drug Empire from Behind Bars,%u201d American Political Science Review 113, no. 2 (May 2019): 584%u2013606, https://doi.org/10.1017/S0003055418000928.393. Jason Stanley, %u201c9. Democratic Lies and Fascist Lies,%u201d in Truth and Evidence, ed. Melissa Schwartzberg and Philip Kitcher (New York University Press, 2021), 209%u201322, https://doi.org/10.18574/nyu/9781479811595.003.0010.

