Page 129 - Demo
P. 129


                                    THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA106yang dianggap tidak sejalan dengan orientasi ideologisnya. Kerangka dasar inilah yang kemudian membentuk karakter gerakan, sekaligus menjadi sumber perdebatan konstitusional dan politik di berbagai yurisdiksi.Dalam literatur organisasi, Hizb ut-Tahrir merumuskan tahapan perjuangan yang relatif ajeg, mulai dari pembinaan kader melalui halaqah atau lingkaran studi yang tertutup, dilanjutkan dengan pergulatan pemikiran di ruang publik untuk membentuk opini umum yang mendukung proyekkhilafah, lalu ditutup dengan upaya mencari nusrah berupa dukungan elite kekuasaan agar perubahan sistemik terjadi tanpa menempuh pemberontakan bersenjata. Pada saat yang sama, organisasi ini menyatakan penolakan terhadap kekerasan sebagai metode, namun menolak demokrasi elektoral karena dipandang bertentangan dengan dasar-dasar akidah yang diyakini. Kerangka demikian memperlihatkan strategi politik-ideologis yang berorientasi pada transformasi tatanan negara, meskipun diklaim bergerak melalui kerja dakwah, pendidikan kader, dan pembentukan opini.177Sejalan dengan perkembangan tersebut, Hizb ut-Tahrirbertumbuh menjadi jaringan transnasional dengan sebaran di Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan, Eropa, hingga Asia Tenggara. Aktivitas yang lazim ditemui mencakup penyelenggaraan halaqah, forum diskusi, penerbitan buletin dan buku, serta konferensi yang menegaskan khilafah sebagai %u201ckewajiban syar%u2019i%u201d dan sebagai horizon politik 177. Dwiki Nur Halimi and Uun Yusufa, %u201cIdeologi Trans-Nasionalisme Sebagai Gerakan: Hizbut Tahrir Indonesia,%u201d Jumat Keagamaan: Jurnal Pengabdian Masyarakat 6, no. 2 (August 2025), https://doi.org/10.32764/abdimasagama.v6i2.6079.
                                
   123   124   125   126   127   128   129   130   131   132   133