Page 130 - Demo
P. 130
THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA THE LANDMARK CASES OF PROF. DR. YUSRIL IHZA MAHENDRA107alternatif.178 Perluasan lintas-negara ini penting dicatat karena persepsi ancaman terhadap organisasi sering kali dibentuk bukan hanya oleh perilaku cabang lokal, melainkan juga oleh asosiasi dengan platform ideologis transnasional yang relatif seragam.179Paradoks Hizb ut-Tahrir tampak pada dua sisi yang berjalan serentak. Organisasi ini tidak menempatkan diri sebagai kelompok bersenjata, tetapi tujuan politik dinyatakan secara eksplisit, termasuk gagasan mengganti kerangka konstitusi nasional dengan rancangan konstitusi khilafah versi organisasi.180 Konsekuensinya, sejumlah negara menilai proyek tersebut sebagai ancaman serius bagi ketertiban konstitusional dan keamanan nasional, sekalipun indikator kekerasan langsung tidak selalu menonjol dalam pola aksinya. Pada titik ini, respons negara bukan semata pembacaan atas metode, melainkan pembacaan atas sasaran politik yang diproyeksikan, yakni perubahan rezim konstitusional.Respons negara terhadap Hizb ut-Tahrir memperlihatkan pola yang relatif konsisten, baik pada rezim otoriter maupun pada negara demokratis, berupa pelarangan administratif, pencabutan status badan hukum, pengawasan ketat, hingga kriminalisasi keanggotaan. Pemerintah Jerman, misalnya, melarang Hizb ut-Tahrir pada 2003 melalui otoritas kementerian dalam negeri dengan alasan perlindungan tatanan demokratis 178. Farhaan Wali, %u201cFunctionality of Radicalization: A Case Study of Hizb Ut-Tahrir,%u201d Journal of Strategic Security 10, no. 1 (March 2017): 102%u201317, https://doi.org/10.5038/1944-0472.10.1.1525.179. Hanif, %u201cHizb Ut Tahrir.%u201d180. Emmanuel Karagiannis and Clark McCauley, %u201cHizb Ut-Tahrir al-Islami: Evaluating the Threat Posed by a Radical Islamic Group That Remains Nonviolent,%u201d Terrorism and Political Violence 18, no. 2 (July 2006): 315%u201334, https://doi.org/10.1080/09546550600570168.

